Leaf Global Indonesia

Kesalahan Orang Tua Saat Mengajarkan Bahasa Inggris ke Anak

Niat Baik yang Kadang Salah Arah

Banyak orang tua ingin anaknya bisa Bahasa Inggris sejak dini — dan itu luar biasa! Tapi sering kali, niat baik ini justru berujung stres, baik untuk anak maupun orang tua. “Aku sudah beli banyak buku, video, bahkan kursus online, tapi kok anakku tetap nggak mau ngomong Inggris ya?” — mungkin ini terdengar familiar.

Faktanya, bukan karena anak malas atau tidak bisa. Bisa jadi karena cara orang tua mengajarkan justru kurang tepat. Anak-anak belajar dengan cara yang berbeda dari orang dewasa. Kalau pendekatan kita terlalu serius, terlalu menuntut, atau terlalu cepat, mereka bisa kehilangan semangat. Nah, biar tidak salah langkah, yuk kita bahas beberapa kesalahan umum yang sering dilakukan orang tua saat mengajarkan Bahasa Inggris ke anak — dan tentu, bagaimana memperbaikinya.

1. Terlalu Fokus pada Grammar Daripada Kesenangan

Kesalahan paling umum adalah menjadikan belajar Bahasa Inggris seperti pelajaran sekolah: penuh aturan tata bahasa dan hafalan. Padahal, anak-anak di usia dini belum butuh tahu “tenses”, “to be”, atau “grammar rules”.

Mereka butuh feel dulu, bukan formula.

Coba ingat, waktu kita belajar bahasa Indonesia dulu, apakah diawali dengan teori? Tidak, kan? Kita belajar dengan mendengar, meniru, dan berbicara — baru nanti memahami strukturnya secara alami.

Solusi:

  • Fokus pada percakapan sederhana: “Good morning!”, “Let’s play!”, “Thank you!”
  • Gunakan permainan, lagu, atau cerita untuk memperkenalkan kosakata.
  • Jangan langsung mengoreksi kesalahan kecil; biarkan mereka nyaman dulu berbicara.

💬 “Anak bukan kamus berjalan. Mereka butuh rasa percaya diri dulu sebelum bisa fasih.”

2. Memaksa Anak Cepat Bisa

Banyak orang tua ingin hasil instan. Baru dua minggu belajar, langsung berharap anak bisa speaking fluently. Padahal, belajar bahasa adalah proses bertahap. Terlalu menekan anak justru membuat mereka takut mencoba.

Coba bayangkan kalau setiap kali anak salah ucap, orang tua langsung bilang, “Salah! Harusnya begini!” Lama-lama anak akan berpikir: “Ngomong Bahasa Inggris itu susah dan menakutkan.”

Solusi:

  • Ubah fokus dari “harus bisa” menjadi “ayo berani dulu”.
  • Rayakan usaha, bukan hanya hasil.
  • Gunakan pujian sederhana seperti, “Good job!”, “You’re learning fast!”, atau “Wow, kamu ingat kata itu!”

Contoh nyata:
Di kelas LEAF ENGLISH COURSE, ada siswa 6 tahun yang awalnya diam selama 2 bulan. Tapi dengan pendekatan menyenangkan dan tanpa tekanan, bulan ketiga dia mulai berani menyapa: “Good morning, Miss!” Sekecil apa pun kemajuan, itu adalah victory!

3. Tidak Konsisten di Rumah

Masalah berikutnya adalah tidak konsisten. Di kursus anak semangat, tapi di rumah sama sekali tidak diajak berinteraksi dengan Bahasa Inggris. Padahal, anak butuh pengulangan agar terbiasa.

Bahasa adalah kebiasaan. Tanpa praktik rutin, anak akan mudah lupa dan kehilangan ritme belajar.

Solusi:

  • Sisipkan Bahasa Inggris di rutinitas sehari-hari.
    Contoh:
    • Saat makan: “Do you want milk?”
    • Saat berpakaian: “Put on your shoes!”
    • Saat bermain: “Let’s clean up the toys!”
  • Sediakan waktu 10–15 menit setiap hari khusus bermain sambil berbahasa Inggris.

Tidak perlu sempurna, yang penting sering dan ringan. Dengan cara itu, anak merasa Bahasa Inggris adalah bagian dari kehidupan sehari-harinya, bukan sekadar pelajaran tambahan.

4. Kurang Memberi Contoh

Anak belajar paling cepat dengan meniru. Tapi sayangnya, banyak orang tua hanya menyuruh tanpa memberi contoh. “Ayo ngomong Inggris!” tapi dirinya sendiri jarang melakukannya.

Padahal, anak usia dini sangat visual — mereka meniru cara bicara, ekspresi wajah, bahkan intonasi. Jadi kalau ingin anak suka Bahasa Inggris, orang tua juga perlu terlihat enjoy dengan bahasa itu.

Solusi:

  • Gunakan kata-kata sederhana dalam percakapan harian:
    “Let’s go!”, “Wow, it’s beautiful!”, atau “I’m hungry.”
  • Tonton video edukatif bersama anak dan ikut menirukan kalimatnya.
  • Jangan takut salah! Justru saat orang tua berani mencoba, anak akan ikut berani.

💬 “Children don’t do what we say. They do what we do.”

5. Menganggap Belajar Harus Selalu Serius

Belajar Bahasa Inggris sering dianggap harus duduk, buka buku, dan menghafal. Padahal, anak-anak paling cepat belajar lewat bermain. Jika orang tua membuat suasana belajar seperti ujian, anak pasti cepat bosan.

Solusi:
Ubah kegiatan belajar jadi permainan!
Beberapa ide seru yang bisa dilakukan di rumah:

  1. English Treasure Hunt – sembunyikan benda dan beri petunjuk dalam Bahasa Inggris.
  2. Sing and Dance – nyanyi lagu English for Kids sambil gerak tubuh.
  3. Picture Story – tunjuk gambar dan minta anak membuat kalimat sederhana.

Anak tidak akan sadar mereka sedang belajar, tapi hasilnya jauh lebih efektif.

Kesimpulan: Belajar Bahasa Inggris Harusnya Membahagiakan

Mengajarkan Bahasa Inggris ke anak bukan soal siapa yang paling cepat bisa, tapi siapa yang paling enjoy prosesnya. Banyak orang tua terjebak pada hasil, padahal yang terpenting adalah menumbuhkan rasa cinta terhadap bahasa itu dulu.

Jadi, hindari lima kesalahan umum ini:

  1. Terlalu fokus pada grammar.
  2. Memaksa anak cepat bisa.
  3. Tidak konsisten.
  4. Kurang memberi contoh.
  5. Menganggap belajar harus serius.

Kalau semua ini diperbaiki, anak akan tumbuh percaya diri dan senang belajar Bahasa Inggris tanpa tekanan.

Kalau orang tua ingin pendampingan lebih terarah, bisa mencoba belajar bersama LEAF ENGLISH COURSE, tempat lahirnya anak jago Bahasa Inggris! Dengan metode 4E (Easy, Enjoy, Excellent, Earn), anak belajar lewat bermain, praktik nyata, dan suasana yang menyenangkan — tanpa stres, tanpa paksaan.

✨ Karena sejatinya, anak tidak butuh orang tua yang sempurna dalam Bahasa Inggris. Mereka hanya butuh orang tua yang mendampingi dengan cinta. 💖

Trusted by Thousands of Students

Sekarang Giliran Anda.

Artikel Lainnya

18/09/2025

Kenapa Anak Harus Belajar Bahasa Inggris Sejak Dini?

20/08/2024

Menaklukkan Dunia dengan Bahasa Inggris

20/08/2024

Pentingnya Bahasa Inggris

Daftar Sekarang!