
Sudah ikut les berbulan-bulan, tapi anak masih belum lancar Bahasa Inggris? Tenang, Ayah dan Bunda tidak sendirian. Banyak orang tua mengalami hal yang sama dan mulai bertanya-tanya, “Sebenarnya yang salah di mana, ya?”
Padahal biaya les tidak sedikit, waktu sudah dikorbankan, bahkan jadwal anak sudah cukup padat. Namun hasilnya belum terlihat signifikan. Sebelum buru-buru menyalahkan anak atau tempat les, yuk kita pahami dulu beberapa penyebab umumnya.
Sering kali masalahnya bukan pada kemampuan anak, melainkan pada metode, lingkungan belajar, atau kurangnya peran orang tua dalam belajar bahasa Inggris di rumah.
Anak Hanya Belajar Saat Les Saja
Bahasa adalah keterampilan, bukan sekadar pelajaran hafalan. Kalau anak hanya terpapar Bahasa Inggris 1–2 jam seminggu saat les, tentu progresnya akan lambat.
Ibarat belajar berenang, tidak cukup hanya melihat instruktur seminggu sekali. Anak perlu “nyemplung” lebih sering.
Beberapa tanda yang sering terjadi:
Anak hanya mengerjakan tugas saat disuruh guru.
Tidak pernah mendengar atau menggunakan Bahasa Inggris di rumah.
Tidak ada pengulangan materi setelah les.
Di sinilah pentingnya orang tua dan bahasa Inggris anak berjalan bersama. Lingkungan rumah yang mendukung bisa membuat kemampuan anak berkembang jauh lebih cepat.
Metode Belajar Tidak Sesuai Gaya Belajar Anak
Setiap anak punya gaya belajar berbeda. Ada yang visual, ada yang auditory, ada juga yang kinestetik.
Kalau anak tipe aktif tapi belajarnya hanya duduk, mendengar, dan mencatat, wajar jika ia cepat bosan.
Misalnya, seorang ibu pernah bercerita:
“Anak saya sebenarnya suka nonton film berbahasa Inggris, tapi kalau disuruh hafalan vocab langsung bete.”
Artinya, bisa jadi anak lebih cocok belajar lewat video, lagu, permainan, atau percakapan santai. Parenting dan pendidikan bahasa perlu disesuaikan dengan karakter anak, bukan disamaratakan.
Kurangnya Kepercayaan Diri untuk Berbicara
Banyak anak sebenarnya paham, tapi takut salah saat berbicara. Takut ditertawakan, takut pengucapannya salah, atau takut dimarahi.
Akhirnya anak memilih diam.
Padahal dalam belajar bahasa, salah itu bagian dari proses. Tanpa praktik berbicara, anak sulit menjadi lancar.
Orang tua bisa membantu dengan:
Tidak menertawakan kesalahan anak.
Memberi apresiasi saat anak mencoba berbicara.
Mengajak ngobrol ringan pakai Bahasa Inggris sehari-hari.
Mendampingi anak belajar bahasa Inggris bukan berarti harus jago grammar, tapi hadir sebagai support system.
Fokus Terlalu Banyak pada Teori dan Grammar
Grammar memang penting. Tapi kalau sejak awal anak terlalu dibebani rumus, mereka bisa merasa Bahasa Inggris itu sulit dan membingungkan.Anak-anak lebih cepat berkembang lewat:Percakapan sederhana.Permainan kata.Storytelling.Role play.Bahasa seharusnya digunakan, bukan hanya dipahami secara teori. Jika les hanya berisi latihan soal dan terjemahan, anak mungkin pintar di kertas, tapi belum tentu lancar berbicara.
Minimnya Peran Orang Tua di Rumah
Ini poin yang sering tidak disadari. Les hanyalah pendukung, bukan penentu utama.Peran orang tua dalam belajar bahasa Inggris sangat besar, terutama dalam menciptakan suasana yang positif.Tidak harus fasih untuk bisa mendukung. Orang tua bisa:Menyediakan waktu belajar rutin.Memutar lagu atau film berbahasa Inggris.Mengajak anak menyebut benda-benda di rumah dalam Bahasa Inggris.Memberikan motivasi dan semangat.Anak yang merasa didukung biasanya lebih percaya diri dan konsisten belajar.
Kesimpulan: Les Saja Tidak Cukup, Perlu Kolaborasi
Jika anak sudah les tapi belum lancar Bahasa Inggris, jangan langsung panik. Evaluasi dulu metode, frekuensi latihan, dan keterlibatan di rumah.Bahasa adalah keterampilan yang butuh waktu, latihan, dan dukungan lingkungan.Ingat, tujuan utama bukan sekadar nilai bagus, tapi kemampuan komunikasi yang nyata.Yuk mulai lebih aktif mendampingi anak belajar bahasa Inggris hari ini. Karena ketika orang tua terlibat, hasilnya akan jauh berbeda. 💛